---Welcome---Selamat Datang---Herzlich willkommen---

Sponsored Ads

Sponsored Ads

Fanpage Facebook

Tampilkan postingan dengan label Tugas Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 November 2014

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA
Bahasa melayu sejak dahulu telah digunakan sebagai bahasa perantara (lingua franca) atau bahasa pergaulan. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.
Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Bukti yang menyatakan itu ialah dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuno itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuno.
Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan, baik sebagai bahasa antarsuku di Nusantara maupun sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar Nusantara.
Informasi dari seorang ahli sejarah Cina, I-Tsing, yang belajar agama Budha di Sriwijaya, antara lain, menyatakan bahwa di Sriwijaya ada bahasa yang bernama Koen-louen (I-Tsing:63,159), Kou-luen (I-Tsing:183), K’ouen-louen (Ferrand, 1919), Kw’enlun (Alisjahbana, 1971:1089). Kun’lun (Parnikel, 1977:91), K’un-lun (Prentice, 1078:19), yang berdampingan dengan Sanskerta. Yang dimaksud Koen-luen adalah bahasa perhubungan (lingua franca) di Kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu.
Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak makin jelas dari peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 M, maupun hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin.
Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa, dan antarkerajaan karena bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur.
Bahasa Melayu dipakai di mana-mana di wilayah Nusantara serta makin berkembang dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang dipakai di daerah di wilayah Nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek.
Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928).
Kebangkitan nasional telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia dengan pesat. Peranan kegiatan politik, perdagangan, persuratkabaran, dan majalah sangat besar dalam memodernkan bahasa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia yaitu :
  • Bahasa melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdangangan.
  • Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dielajari karena dalam bahasa melayu tidak dikenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).
  • Suku bugis, Makassar, Minang, sunda dan suku suku lainnya dengan sukarela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
  • Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.


Adapun peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan bahasa Indonesia dapat dirinci sebagai berikut :
  1. Tahun 1801 disusunlah ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A. Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Ejaan ini dimuat dalam Kitab Logat Melayu.
  2. Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
  3. Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kayo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad (dewan rakyat), seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.
  4. Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi pengokohan bahasa indonesia menjadi bahasa persatuan.
  5. Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.
  6. Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.
  7. Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.
  8. Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
  9. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik (ejaan soewandi) sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
  10. Tanggal 28 Oktober – 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
  11. Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
  12. Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
  13. Tanggal 28 Oktober – 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
  14. Tanggal 21 – 26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
  15. Tanggal 28 Oktober – 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
  16. Tanggal 28 Oktober – 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
  17. Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.


Inilah yang menjadi bukti bahwa bahasa bisa mempersatukan kita. Bahasa yang telah mempersatukan seluruh rakyat Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke. Dari berbagai Suku, Agama Ras dan bahasa daerah yang ada di Nusantara dapat disatukan dengan Bahasa Indonesia. Mari kita tetap menjaga apa yang telah diwariskan oleh Pioneer bahasa negeri kita dengan jalan menjadikan bahasa Indonesia sebagai budaya yang dijunjung tinggi. Sehingga kita akan selalu membudayakannya dalam kehidpan kita sehari-hari.
Demikianlah Sejarah dan Perkembangan Bahasa Indonesia, semoga ada hikmah yang bisa kita petik.


Daftar Pustaka
Tasai, S Amran dan E. Zaenal Arifin, “Cermat Berbahasa Indonesia : Untuk Perguruan Tinggi”,Akademika Pressindo, Jakarta, 2000
http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/lamanbahasa/. Diakses pada tanggal 12 november 2013. Pukul 22.13 WITA.
Wikipedia bahasa Indonesia.

Ahmadi Muhsin, 1990. sejarah dan standarisasi bahasa Indonesia. Bandung : sinar baru algesindo. 

Selasa, 04 November 2014

Istilah Ilmiah Beserta Arti Luasnya



Setelah sebelumnya sukses memposting “Bahasa Ilmiah”, kali ini kita akan lanjutkan lagi artikel sebelumnya, artikel kali ini mengenai Istilah-istilah Ilmiah beserta penggunaannya dalam bahasa Indonesia, dengan kata lain arti luas dari kata-kata ilmiah tersebut. Tujuan Postingan kali ini tidak lain, tiada bukan hanya berniat membantu agan-agan yang lagi deman dengan penggunaan bahasa Ilmiah. Karena kata orang awam “kalau orang yang menggunakan bahasa ilmiah itu bukan orang biasa, dia bisa berbicara dengan metode campur kode alih kode, dia adalah orang-orang yang ahli dalam ilmu Linguistik (bahasa). Hhaha, seperti itulah mungkin.
Baiklah, Postingan berikut adalah sebagian kecil dari istilah Ilmiah yang yang bisa saya posting pada kesempatan ini :). Kalo mau di_copas silahkan, tapi jangan lupa like this Blog atau klik salah satu Link tautan yang ada, semoga ada yang menarik di hati pengunjung.
danke im Voraus :)
Istilah-Istilah Ilmiah
Istilah-istilah Ilmiah
Arti Luas
Akses
Jalan masuk
Akomodasi
Penyesuaian sosial dalam interaksi antara pribadi dan kelompok manusia untuk meredakan pertentangan/ ketegangan dan konflik.
Aktivis
Orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa) yg bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dl organisasinya.
Aliansi
Ikatan antara dua atau lebih (orang, lembaga, Negara, dsb) yang memiliki tujuan politik yang sama;
Aplikasi
Kb; Alat, Kk; Penggunaan/penerapan dalam parktik.
Apresiasi
kesadaran terhadap nilai seni dan budaya/penghargaan terhadap sesuatu.
Aset
Sesuatu yg mempunyai nilai tukar (Modal/Kekayaan)
Asosiasi
Perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan bersama yang membentuk hubungan atau pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra.
Asumsi
Dugaan yang diterima sebagai dasar pikiran.
Desain
Kerangka bentuk; rancangan motif/pola.
Deteksi
Melacak; usaha menemukan dan menentukan keberadaan atau kenyataan sesuatu.
Diktator
Pemimpin yang mempunyai kekuasaan mutlak, biasanya diperoleh melalui kekerasan atau dengan cara yg tidak demokratis.
Edukasi
(perihal) pendidikan
Efisiensi
Kemampuan menjalankan tugas dengan baik dan tepat dengan tidak membuang waktu, tenaga, biaya, dsb.
Emansipasi
Persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan social masyarakat seperti persamaan hak kaum wanita dng kaum pria.
Estimasi
Perkiraan dalam hal nilai/jumlah.
Evakuasi
Pengungsian atau pemindahan penduduk dari daerah-daerah yang dianggap berbahaya ke daerah yang aman.
Evaluasi
Penilaian sesuatu secara teknis dan ekonomis.
Eksekusi
Pelaksanaansesuatu misalnya dalam bidang hukum peradilan pidana maupun perdata.
Eksplorasi
Kegiatan untuk memperoleh pengalaman atau penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih baru/banyak.
Fokus
Pusat (perhatian, pembicaraan, pandangan, sasaran, dsb).
Formal
Resmi; sesuai dengan peraturan yang sah; menurut adat kebiasaan yang berlaku.
Generalisasi
Penyamarataan;  perihal membentuk gagasan atau simpulan umum dari suatu kejadian, hal, dsb.
Globalisasi
Proses masuknya ke ruang lingkup dunia
Ilegal
Tidak sah; tidak menurut hukum
Imperialis
Negara yang memperluas daerah jajahannya untuk kepentingan industri dan modal.
Improvisasi
Penciptaan sesuatu tanpa persiapan lebih dahulu.
Inovasi
Penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat).
Instan
Dengan mudah/cepat.
Interaksi
hal saling melakukan aksi/berhubungan.
Internal
Menyangkut bagian dalam.
Interpretasi
Tafsiran;  pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoretis thd sesuatu.
Interupsi
Penyelaan atau pemotongan pembicaraan.
Intervensi
Campur tangan dalam perselisihan antara dua pihak (orang, golongan, negara, dsb).
Investasi
Penanaman modal untuk tujuan memperoleh keuntungan.
Klaim
Pernyataan tentang suatu fakta atau kebenaran atas sesuatu.
Klarifikasi
Penjernihan, penjelasan, dan pengembalian sesuat kepada apa yg sebenarnya.
Klasifikasi
Penyusunan/penggolongan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan.
Konversi
Perubahan dari satu bentuk/sistem ke dalam bentuk/sistem yang lain.
Komitmen
Perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu yang telah disepakati.
Komunitas
Kelompok organisme (orang, tumbuhan, dsb) yang hidup dan saling berinteraksi di pada daerah tertentu.
Komplain
Pernyataan bahwa situasi tidak memuaskan atau tidak dapat diterima.
Kondusif
membuat situasi atau hasil tertentu menjadi lebih baik.
Konfirmasi
Pernyataan Penegasan/pengesahan/pembenaran.
Korupsi
Penyelewengan atau penyalahgunaan sesuatu untuk keuntungan pribadi atau orang lain.
Krusial
Berkenaan dengan keadaan gawat, genting, atau rumit.
Manajemen
Proses yang berhubungan dengan mengendalikan sesuatu atau orang-orang.
Marjinal
Sesuatu yang terletak ditepi/dikucilkan/disimpangkan.
Mediasi
Penengah atau perantara; intervensi dalam sengketa untuk mengatasinya.
Metode
Cara; bentuk khusus dari prosedur untuk mencapai atau mendekati sesuatu, terutama yang sistematis.
Motivasi
Dorongan bathin/alasan seseorang untuk bertindak atau berperilaku dengan cara tertentu.
Naturalisasi
Pewarganegaraan/proses mendapatkan kewarganegaraan di suatu Negara.
Negosiasi
Diskusi yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan.
Objektif
Mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi.
Obsesi
Keadaan pikiran yang membuat orang bertindak untuk mencapai tujuan.
Observasi
Tindakan atau proses mengamati sesuatu atau seseorang dengan hati-hati dengan tujuan untuk mendapatkan informasi.
Oposisi
Pihak penentang yang menentang dan mengkritik pendapat atau kebijaksanaan golongan yang berkuasa;
Opsi
pilihan dari sejumlah alternatif.
Orasi
Pidato formal, terutama yang diberikan pada acara seremonial.
Orientasi
Pandangan yang mendasari pikiran, perhatian untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yang tepat dan benar.
Overaktif
Terlalau banyak aktif/bertindak
Paradigma
Pola pikir; model dalam teori ilmu pengetahuan.
Prediksi
Ramalan/prakiraan tentang suatu hal.
Prematur
Terlalu dini; terjadi atau dilakukan sebelum waktu yang tepat atau biasanya.
Properti
Kekayaan/harta benda; harta berupa tanah dan bangunan serta sarana dan prasarana yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tanah dan/atau bangunan yang dimaksudkan.
Proteksi
Hal yang berkaitan dengan perlindungan tentang sesuatu.
Rasional
Sesuai dengan alasan atau logika.
Reklamasi
Tuntutan untuk memperoleh kembali apa yang pernah ada.
Relatif
Dipertimbangkan dalam hubungan atau sebanding dengan sesuatu yang lain.
Rispek
Perasaan kekaguman yang mendalam bagi seseorang atau sesuatu ditimbulkan oleh kemampuan mereka, kualitas, atau prestasi.
Restorasi
Pengembalian atau pemulihan kapada keadaan semula seperti, tempat, kekuasaan, jabatan, dsb.
Revisi
Peninjauan (pemeriksaan) kembali untuk perbaikan.
Rumor
Isu/cerita yang beredar saat ini atau laporan kebenaran yang masih diragukan kebenarannya.
Sampel
Contoh; menunjukkan sebagian kecil atau kuantitas yang dimaksudkan untuk mewakili bentuk yang sama dengan keseluruhan.
Simple
Sederhana; mudah dipahami atau dilakukan.
Simulasi
Metode pelatihan yang mempragakan sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan yang sesungguhnya.
Solusi
Cara untuk memecahkan masalah atau yang berkaitan dengan situasi yang sulit.
Spekulasi
Tindakan yg bersifat untung-untungan; Pembentukan teori atau pendapat yang tidak berdasarkan kenyataan/tanpa bukti yang kuat.
Standar
Ukuran kualitas yang dipakai sebagai patokan;
Statement
Pernyataan;  ekspresi tertentu untuk suatu hal dalam pembicaraan atau tulisan.
Subjekif
Mengenai keadaan yang sebenarnya yang dipengaruhi oleh perasaan pribadi, selera, atau pendapat.
Sugesti
Anjuran/saran; ide atau rencana yang diajukan untuk dipertimbangkan.
Suplai
Persediaan barang-barang yang dibutuhkan dan dapat diperoleh.
Saspek
Memiliki kesan tentang adanya, kehadiran atau kebenaran sesuatu tanpa bukti.
Survey
Penyelidikan; peninjauan;  teknik riset dengan memberi batas yang jelas atas data/deskripsi.
Tabu
Pantangan/larangan;  sesuatu yang dianggap suci (tidak boleh disentuh, diucapkan, dsb).
Toleransi
Penyimpangan yang masih dapat diterima.
Topik
Pokok pembicaraan;  masalah pokok berkaitan dengan teks, wacana, atau percakapan.
Transparansi
Suatu keadaan yang dilihat nyata/kasat mata/transparan.
Vakum
Kekosongan/hampa; suatua keadaan yang menggambarkan tidak berfungsinya sesuatu.
Verifikasi
Pemeriksaan tentang kebenaran laporan, pernyataan, atau data.

Demikian Postingan Ane kali ini, semoga bisa membantu. Hhehe, mohon ditambahkan karena masih butuh penyempurnaan gan. Lampirkan saja di kolom komentar.

Danke für ihren besuch…